Jumat, 13 November 2015

Ibu Rumah Tangga Yang Bekerja


Dulu saya berhenti kerja saat anak saya berusia kurang lebih 7 bulannya, rasanya berat, tapi lambat laun sudah terbiasa. Dan karena saya menyibukkan diri dengan usaha rumahan, jadi saya bisa mengawasi buah hati dan mencari penghasilan untuk saya sendiri (yang sebenarnya nilainya tidak terlalu besar, tapi bisa membuat saya bahagia).

Ketika itu saya berpikir, seharusnya setiap wanita yang sudah menikah dan mempunyai momongan haruslah merelakan diri untuk berhenti bekerja, karena kerja di kantor atau di luar rumah itu menghabiskan waktu dan perhatian untuk buah hati juga untuk pasangan.

Bertambah-tambah ketika melihat seorang tetangga yang gaji istrinya lebih besar dari suaminya, berperilaku menang sendiri, semua pekerjaan yang harusnya menjadi tugasnya dibebankan kepada suami, mulai mandiin si anak, memasak, mencuci dan sebagainya. Lebih parah lagi ketika mereka bertengkar, dengan seenaknya si istri mengunci pintu dan membiarkan suaminya tidur di luar. duh duh... 

Ada lagi tetangga lain yang menyerahkan semuanya kepada Ibunya ( nenek ), padahal di usianya yang mulai renta harusnya beliau beristirahat dengan bahagia. Tapi ini malah mendapat tugas yang berat, membersihkan rumah, memasak bahkan momong cucunya setiap hari. Sampai-sampai si Ibu ini berkeluh kesah kepada tetangga yang lain, bahwa sebenarnya dia capek, tapi mau bagaimana lagi anaknya cuma satu, mau ikut siapa lagi. *tear

Dan masih banyak lagi pemandangan yang miris menyangkut ibu bekerja yang melalaikan tugasnya ini. Maka makin lengkaplah ketidak setujuan saja akan ibu rumah tangga untuk bekerja.

Namun suatu hari saya melihat seorang ibu yang banting tulang bekerja, dari pagi sampai malam demi anak-anaknya, karena suaminya tak pernah menafkahinya. Ada pula yang suaminya sakit, ada yang meninggal, ada yang untuk menyekolahkan adek-adeknya dan menafkahi kedua orang tuanya karena penghasilan suami hanya cukup untuk rumah tangga mereka saja dan banyak macam lagi tujuan mulia mereka bekerja.

Terlebih saat saya membutuhkan fasilitas yang privasi seperti dokter kandungan, suster atau pelayanan lain yang dimana kita lebih nyaman bila yang melayani adalah sesama perempuan. Maka pandangan sayapun berubah 380 derajat.

Saya tidak lagi menentang wanita bekerja, asalkan memang itu dikarenakan keadaan yang memaksa, kondisi yang mengharuskan seperti itu, memang dibutuhkan ( dokter obgn dll ) dan yang terakhir jangan sampai melupakan kodratnya sebagai wanita dan tugasnya sebagai istri juga ibu dari anak-anak mereka. Dan terpokok dan paling penting adalah pekerjaan itu pekerjaan baik, yang masih bisa  menjaga harga diri mereka dan keluarga mereka ( halalan toyyiban ). Atau bila memungkinkan bisa bekerja di rumah mengoptimalkan kemampuannya, mungkin dalam hal memasak, berkreatifitas dan sebagainya. 

Jadi teman jangan lagi meremehkan, membenci, menghina atau bahkan membully ibu-ibu pekerja ya, sebelum tahu apa maksud dan tujuan dibalik keputusan mereka untuk bekerja. Seandainyapun alasan itu tidak relevan dan bahkan mungkin mereka melalaikan kewajiban dan kodratnya, ingatkanlah dengan cara yang baik bila masih mereka lakukan biarkan saja, karena setiap perbuatan pasti ada resikonya. Dan yang menanggung adalah mereka bukan anda. Tugas kita hanya menginggatkan sudah itu saja titik. 

Karena jika kita menghina dan membenci mereka, ini tidaklah ada gunanya, yang rugi bukan mereka, tapi kita, karena kita sudah mendholimi mereka dan diri kita. Bukan pahala yang kita dapat tapi dosa yang semakin menumpuk seiring semakin gencarnya kita menghina mereka. Sekali lagi tugas kita hanya mengingatkan bukan menghakimi ataupun memaksakan kehendak. 

Semoga bermanfaat...

Barrakallahufikum

15 komentar:

  1. yg penting happy ... dan saling pengrtian ,,, insya Allah rukun dan damai serta sejahtera..hehe

    BalasHapus
  2. Yup betul .... 100 utk mas fiu..

    BalasHapus
  3. Mbak Ir saya sedang galau bgt mbak soal ini. Ingin resign dari ngajar tapi gajinya lumayan bisa bantu2 suami. Hiks. Apa yg harus kulakukan mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sholat istiqaroh sj mba... Ditimbang jg byk baik / buruknya... Semangat mba Ika..

      Hapus
  4. salut sama wanita bekerja, di rumah juga melayani kelurga. itu kan cape banget. pernh kerja jg soalnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak..sy jg prnh merasakan..

      Hapus
  5. hanya diri kita sendirilah yang tahu apa yang terbaik. Pilihan ada di tangan kita masing2

    BalasHapus
  6. masing2 orang punya pilihan ya mbak,kalau kita tahu,pasti kita paham....
    mbak irooo,apa kabar??semoga sehat ya mbak...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sehat mba Hanna...gmn mba sdh di jombang kah ? Semoga bs ketemuan...

      Hapus
  7. mak Iro "Maka pandangan sayapun berubah 380 derajat" mungkin mangsudnya 360 derajat ya mak *gagal fokus* - mewakili wanita pekerja yg sering gagal fokus haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang dilebihi dikit mak biar lebih mantaffff *ngelesss... Qiqiqi

      Hapus
  8. Banyak pertimbangan buat seorang ibu berhenti bekerja, alasan utama ya ekonomi. Tp tetap tugas sebagai isteri dan ibu yg utama. Kl soal pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak, ya tugas suami isteri, bisa berbagi tugas kan?

    BalasHapus
  9. Banyak pertimbangan buat seorang ibu berhenti bekerja, alasan utama ya ekonomi. Tp tetap tugas sebagai isteri dan ibu yg utama. Kl soal pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak, ya tugas suami isteri, bisa berbagi tugas kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba... intinya kalau wanita ingin tetap bekerja diluar rmh tdk boleh melalaikan tugasnya sbg istri dan ibu. Karena ada tugas2 sbg istri atau ibu yang tidak bisa atau mungkin tidak selayaknya dilakukan seorang suami.

      Hapus