Minggu, 13 September 2015

Pecah


#episode awal

"Praaanggg..." 
"Apa itu nak..?" tanyaku setengah kaget dan berteriak
"Gelas bu.. pecah kesandung kakiku.." jawab anakku dari ruang belakang
"Nak..nak... gimana sih gak ati-ati...pelan-pelan, hati-hati.. bla bla bla bla..." kicoanku menggema diseluruh ruangan.
Anakku hanya mengucap kata "maaf", melihat wajahnya memelas akupun diam. Yah memang sudah pecah mau bagaimana lagi, toh anakku tidak kenapa-kenapa. Aku mengomel, aku marahpun tak akan barang itu utuh lagi.

#episode tengah

"Praanggg..."
Untuk kesekian kali suara itu sering mewarnai rumahku, entah piring, gelas, ataupun barang pecah belah lain yang dipecahkan oleh anakku secara tidak sengaja. 
Aku hanya diam sembari menghela nafas membersihkan pecahan itu sambil sesekali melihat anakku dengan wajah bersalahnya. 
Dan akan keluar kata "maaf" lagi dari bibirnya. Dan aku masih tetap diam, mungkin aku sudah terbiasa. Walaupun setiap kali ada suara itu aku masih sering terkejut, bukan menyesali karena barang itu pecah, akan tetapi karena aku takut anakku terluka. 

#episode berikutnya

"Praanggg..."
"Auuhhh ibuuuu...." teriak anakku dari ruang belakang.
Dadaku berdebar, tidak biasanya dia mengaduh seperti itu. Segera ku bergegas menuju ketempatnya, terlihat kakinya penuh darah mengalir. Tanganku bergetar, hatiku berdebar, dia menangis menahan perih. Segera kutuang obat luka seadannya untuk menghentikan pendarahannya, kakinya sobek oleh piring yang pecah untuk kesekian puluh kalinya. 
"Ini yang ibu takutkan nak... ibu gak marah kamu pecahin semua barang, tapi ya ini yang ibu takutkan, kenapa kamu tidak bisa berhati-hati, padahal ibu sudah berkali-kali mengatakan untuk berhati-hati.... bla bla bla..." mulutku mengomel sambil terus menghentikan darah yang masih mengalir. Lalu aku diam setelah melihat raut mukanya yang begitu menyesal melebihi sebelumnya dan muncul kata "maaf" lagi dengan dibarengi air matanya.

Mungkin itu hanya sekelumit cerita, tapi dari itu, banyak hikmah yang bisa kami petik, yaitu aku belajar iklas untuk setiap hal yang hilang dalam kehidupan kita, dan menjadikan pembelajaran untuk anakku agar lebih berhati-hati dalam segala hal, karena setiap hal yang diperbuat pasti ada akibat yang diterima.

Pada awalnya kita merasa duh barangku pecah, duh barangku dan barangku, tapi sejenak kita renungkan bahwa itulah kehidupan ada yang datang dan ada yang pergi, menyambut yang datang dengan bahagia dan merelakan yang hilang atau pergi.

Tapi masih banyak orang yang hanya karena anaknya menumpahkan minuman saja, harus menerima pukulan dan makian. Atau menghilangkan sesuatu kemudian mendapat hukuman yang rasanya tidak masuk akal. Masih banyak orang juga yang mempermasalahkan masalah yang sebenarnya tidak akan menjadi masalah yang besar bila tidak dibesar-besarkan. 

Diawal-awal akupun juga marah dan kesal. Kemudian aku berfikir lagi, apakah dengan kemarahan dan kekesalanku barang itu akan kembali seperti sedia kala ?, tentu tidak, jadi untuk apa aku marah dan kesal ?. lalu aku menekankan dalam diriku, apapun yang hilang itu semua sudah ditakdirkan, seperti daun-daun keringpun gugur juga akan kehendak Sang Pencipta.

Jadi jika ada yang hilang itu semua sudah jalan dan takdir-Nya. Tidak usah dipermasalahkan dan dijadikan persoalan yang besar. Hanya saja, manusia di perintahkan untuk berikhtiar menghindari hal-hal yang merugikan diri sendiri. Dengan aku menasehati anakku agar berhati-hati, itu sudah merupakan ikhtiar, jika kemudian dia terluka, itu adalah pembelajaran untuknya bahwa setiap hal ada akibatnya. pada akhirnya barulah dia menyadari apa maksud kata-kata ibunya.

Mungkin terlambat, tapi setidaknya dari satu hal itu dia bisa belajar untuk berhati-hati dalam segala hal dalam hidupnya, tanpa menunggu akibat yang ditimbulkan, tanpa menunggu hal-hal yang buruk menimpanya. Akan tetapi diapun bisa belajar bila memang semua ikhtiar sudah dilakukan lalu hasil yang diharapkan tidak sesuai, itu semua sudah kehendak Sang Pencipta. Kita harus iklas dan sabar untuk menerima semua itu. 

Barrakallaahufikum...


4 komentar:

  1. memang semuanya udah ada yg ngatur ya mak Iro..seenggaknya kita harus memang sabar dan ikhlas,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba... terkadang sabar dan iklas itu yg syusyah... hihi... hrs terus belajar..

      Hapus
  2. Teduh baca tulisannya, terima kasih udah sharing jadi berasa ada yg ingatin tentang sabar dan ikhlas

    BalasHapus