Senin, 01 September 2014

Menahan Amarah

Setiap manusia pasti punya amarah, apalagi bila dalam keadaan kesal dan marah kepada seseorang, maka amarah itu akan muncul dengan bentuk kemarahan yang kemudian terucap atau timbul sikap-sikap yang kadang berlebihan dan menakutkan.  

Tetapi hendaknya sebagai manusia harus berusaha agar bisa menahan semua amarah yang timbul itu, walaupun sangat sulit. karena amarah ini terkadang dan mungkin sering malah merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Yang tentunya pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan dalam diri sendiri dan tentu pihak lain juga.

Hal ini pernah saya alami, suatu hari ada seorang kerabat yang memfitnah saya, yang membuat saya sangat sedih dan marah, karena dia berbuat hal seperti itu tidak satu satu kali itu saja. Sebelumnya juga pernah berbuat begitu, saat itu saya menangis sejadi-jadinya. Hati saya sangat sakit, sesakit-sakitnya hingga rasanya sesak di dada. Walaupun suami sudah menenangkan saya, tapi hati ini sangat marah. Untungnya saya bukanlah seseorang yang suka mempermalukan orang lain atau melabrak sesorang, apalagi dia masih ada hubungan kerabat.

Saat itu yang saya lakukan hanya berdoa dan memohon kepada Allah agar Allah menghukum atas semua perlakuannya kepada saya. Agar Allah meruntuhkan kesombongannya, seharian saya berdoa, sampai terasa lega dada saya. Keesokan harinya saya dengar dari saudara yang lain bahwa orang tersebut mendapat musibah, yaitu uang sejumlah beberapa juta milik kantor yang dibawanya hilang, dan dia sedang kebingungan bagaimana cara menggantinya.

Saat mendengar itu, tiba-tiba saya merasa sangat bersalah telah berdoa yang jelek untuknya. Tapi semua sudah terjadi, sejak saat itu saya sangat berhati-hati bila amarah sedang menguasai hati saya. Biasanya saya duduk, menenangkan diri dan menarik nafas dalam-dalam, membaca ta'awudz, beristiqfar sebanyak-banyaknya, ,  segera berwudhu dan bila memungkinkan saya laksanakan sholat 2 rakaat.

Dari Jabir, ia berkata, "Kami pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada satu peperangan, dan ada seorang laki-laki berada di atas untanya. Unta orang Anshar itu berjalan lambat kemudian orang Anshar itu berkata ( kepada untanya ), "Berjalanlah semoga Allah melaknatmu". Rasululullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, " Turunlah engkau dari unta tersebut. Engkau jangan menyertai kami dengan sesuatu yang telah dilaknat. Kalian jangan mendo'akan kejelekan bagi diri kalian. Kalian jangan mendo'akan kejelekan bagi anak-anak kalian. Kalian jangan mendo'akan kejelekan bagi harta kalian. Tidaklah kalian berada di satu waktu jika waktu tersebut permintaan diajukan, melainkan Allah akan mengabulkan bagi kalian". ( Shahih HR. Muslim ( no. 3009 )

Hadist ini menjelaskan bahwa do'a orang yang sedang diliputi amarah akan dikabulkan jika bertepatan dengan waktu yang diijabah. Dan pada saat marah dilarang berdo'a bagi kejelekan dirinya, keluarganya dan hartanya.

Hari itu merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi saya, bahwa bila amarah sudah meliputi dada, setanpun akan segera meliputi kita juga, oleh karena itu Rasulullah menyuruh kita untuk membaca ta'awudz saat marah.

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : " Kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba ada dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seorang dari keduanya mencaci temannya sambil marah, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika mengucapkannnya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah), Seandainya ia mengucapkan : "A'udzu billahi minas syaithonirrojiim ( Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk )". Para sahabat berkata, " Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?". Laki-laki itu menjawab, "Aku bukan orang gila" ( Shahih. HR. Muslim No. 2610 )

Allah Ta'ala berfirman " Dan jika setan mengodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar dan Maha mengertahui" ( Qs. Al-A'raf : 200 )

Jadi jika amarah mulai meliputi hati kita hendaknya kita :
  1. Berlindung kepada Allah dengan mengucap Ta'awudz
  2. Mengucapkan kalimat - kalimat yang baik ( dzikir ) atau istiqfar
  3. Berusaha untuk diam sambil menahan amarah yang bergejolak. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah 'alaihi wa sallam bersabda "Jika kalian marah, diamlah". ( HR. Ahmad )
  4. Dianjurkan untuk berwudhu. Terdapat hadist dari Urwah As-sa'di radhiyallahu 'anhu, yang mengatakan " Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu dicpitakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu". ( HR. Ahmad dan Abu Daud ) 
  5. Merubah posisi. Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah 'alaihi wa sallam menasehatkan, "Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaklah dia duduk. karena dengan itu marahnya bisa hilang, Jika belum hilang, hendaklah dia mengambil posisi tidur." ( HR.Ahmad dan Abu Daud )
  6. Ingatlah hal-hal buruk akibat dari kemarahan.
  7. Ingatlah akan keutamaan-keutamaan orang yang bisa menahan amarah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda "Jangan marah, bagimu surga " ( HR. Thabrani )
  8. Istirahatlah
Untuk itu seyogyanya kita berusaha dengan sangat untuk bisa mengendalikan emosi kita bila amarah sudah menguasai. Agar kemarahan itu tidak membuat kita menyesal atas akibat dari kemarahan kita. Wallahu a'lam bi shawab.

Semogo bermanfaat....


Barrakallahufikum...

12 komentar:

  1. Duh mak,,, Kenapa ya menahan amarah itu susaaah banget rasanya, tapi kalau fase *amarah yang menjadi2 itu bisa kita lewati dan jalani dengan sabar, rasanya sungguh luar biasa, rasanya lebih lega dan lebih plong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak susah bgt...tapi kt hrs berusaha sungguh-sungguh insyaallah diberi kemudahan... bener mak klo kt jalani dg sabar akan terasa lega dan plong...bahkan kt bs melalui hari dg lbh bahagia...

      Hapus
  2. Subhnallah mbak Irowati saya jadi inget salah saya....saya pernah marah sam sobat saya sampe sekarang saya kadang masih belum bisa memafkan tapi doa kebaikans aya sellau tercurah untuk sobats aya itu...semnoga Allahs egera ikhlaskan rasa marah dalam diri saya aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga mas Angki bisa memaafkan teman mas, agar hati lebih tenang dan bahagia.... Allah selalu memberi jalan bl kt sungguh-sungguh mas..

      Hapus
  3. Semoga kita semua terhindar dari amarah yg bisa merugikan diri kita sendiri maupun org lain ya mak...

    BalasHapus
  4. memang kadang amarah sulit dibendung

    BalasHapus
    Balasan
    1. yups betul...tp tetap hrs terus berusaha menahannya... terimakasih sdh berkunjung

      Hapus
  5. Ketika marah, Diam itu lebih baik. Memang sih, menahan marah itu sulit. Tapi harus dicoba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget...klo gak ditahan bisa berbahaya !...

      Hapus
  6. Mak, menahan marah sudah berhasil. Tapi kenapa ya... saya belom rela kalo dia belum dihukum oleh tuhan atas perlakuan yang menyakitkan? Kadang hampir terucap doa yang jelek, tapi saya selalu takut bagaimana kalau doa itu malah mengenai saya sendiri. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amarahnya sdh diredam tp iklasnya tdk mengikuti ya mak... jd masih ada perasaan spt itu.... dan belajar iklas memang sulitttttt, lbh sulit drpd menahan amarah....semoga kt bs selalu dan belajar utk iklas ya makkk...

      Hapus