Kamis, 17 September 2015

Keterbatasan Bukan Halangan


Ini adalah sebuah kisah yang benar-benar terjadi, aku melihat dan mendengar sendiri. Kisah seorang gadis lugu karena keterbatasan yang telah ditakdirkan untuknya. Allah menganugerahinya dengan keterbatasan berpikirnya, bersyukurnya wajahnya tidak sebagaimana kebanyakan anak yang mengidap down sindrom.

Tersebutlah seorang gadis, lahir dari keluarga biasa saja, dari kecil banyak teman yang mengejek karena kekurangannya itu. Kadang dia hanya tertawa ataupun sesekali menangis mungkin karena sudah terlalu kesal. Ejekan dari teman semakin bertambah saat dia mulai mengenyam bangku sekolah dasar. 

Karena dia sulit mengikuti pelajaran, gurupun kesulitan harus dengan cara apa mengajarinya. Mungkin harusnya disekolahkan di sekolah khusus, tapi mungkin orang tuanya yang lugu tak mengerti akan hal itu. Jadi bisa dipastikan dia selalu tinggal kelas, dari mulai jadi teman kakakku sampai jadi teman adikku. Dan luluspun karena para guru kasihan kepadanya, yah dia lulus dengan tanpa hasil apapun dari sekolah karena tetap sajaa dia kesulitan membaca. 

Tubuhnya yang bongsor agak tambun membuat anak-anak selalu saja mengejeknya. Mungkin dia sudah kebal dengan semua itu. Tapi dari kecil gadis ini sudah bisa mencari uang sendiri dengan cara membantu para tetangga menyelesaikan pekerjaan rumah seperti mencuci dan bersih-bersih. Atau sesekali membantu disawah. Dan semua uangnya diberikan kepada ibunya yang selalu sabar merawatnya.

Diapun tumbuh menjadi gadis seperti halnya teman-teman perempuan lainnya, mengalami haid dan sebagainya. Tapi masih saja banyak yang mengejeknya, sepertinya itu masih menjadi makanan harian untuknya. Kadang dia marah-marah kadang pula tertawa khas seperti halnya penderita down sindrom. 

Hingga suatu malam yang gelap, sesosok manusia berhati iblis membekap mulut dan menyeret tubuhnya ke dalam gelapnya pohon-pohon di sebuah kebun, dilampiaskan nafsunyaa pada gadis lugu tak berdaya ini. Setelah selesai ditinggalkannya gadis ini begitu saja, si gadis hanya bisa menangis kesakitan dan tertatih - tatih kembali ke rumah.

Orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa karena ditanya berkali-kali gadis ini tetap tidak tahu siapa orang yang menyakitinya. Remuk redam saat itu mungkin hati orang tuanya, tapi seakan mereka tak berdaya, mereka tak tahu harus berbuat apa. Hinggapun setelah sekian waktu perut anak gadis mereka ini telah terisi janin hasil perbuatan bejat si manusia pengecut tersebut. Selanjutnya mereka melanjutkan hidup dengan beban yang sungguh berat,

Bisa dibayangkan ejekan pasti semakin gencar, tapi gadis ini begitu tabah. Dijalani semua dengan apaa adanya, atau mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ?, sayapun tak tahu. Setelah genap sembilan bulan mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki yang tampan. Si gadis sangat menyayanginya, dibantu orang tuaanya, dia besarkan buah hatinya dengan kerja kerasnya sebagai buruh cuci dan pekerjaan serabutan lainnya yang bisa dia kerjakan. 

Saat bapaknya meninggal, kakak-kakaknya merantau ke luar kota, tinggallah si gadis bertiga bersama putra dan ibunya. Beban dipundaknya semakin berat, hari-harinya hanya diisi hanya dengan bekerja dan bekerja, bukan kakak-kakaknya melupakannya, akan tetapi merekaa hanya bisa membantu sekedarnya karena mungkin keadaannya mereka sudah sama-sama berumah tangga. 

Dari pagi sampai sore bahkan sampai malam dia membanting tulang, menghidupi anak dan ibunya. Karena semakin hari ibunya semakin sakit-sakitan dan semakin tua. Tiap hari dia juga harus membeli pampers untuk ibunya yang sudah tidak bisa lagi mengontrol untuk berhajat. 

Kini putranya sudah berinjak besar, alhamdulillah dia tumbuh normal seperti anak lainnya, hingga mengecap pendidikan sampai SMU, kemudian merantau ke luar kota dan sudah bekerja. Sesekali dia kumpulkan uangnya untuk ibunya, walaupun ibunya selalu menolak karena merasa kasihan kalau-kalau anaknya di perantauan tak bisa makan.

Ternyata dibalik kekurangannya akan kecerdasannnya, Allah memberikan kelebihan kasih di hatinya. Bagaimana dia dengan tanpa lelah, tanpa malu, mencari nafkah untuk berbakti kepada ibunya, dan bukti sayangnya untuk putranya, hingga berhasil mendidiknya menjadi anak yang baik dan berbakti, yang tak malu akan kondisi ibunya. 

Tidak semua manusia bisa melakukannya, tidak semua gadis yang tertimpa musibah sepertinya bisa bangkit dan terus berdiri. Tak semua ibu bisa merawat dengan baik, dengan penuh kasih anak yang mungkin telah membuat hidupnya dalam ejekan dan hinaan. Tapi dia dengan keterbatasannya bisa melakukannya, dia yang tak bisa membaca tak bisa berhitung bahkan dia yang tak tahu bahwa uang 500 ribu sama dengan setengah juta itu,  bisa menjadi ibu yang hebat dan anak yang berbakti. 

Sedang di luar sana banyak manusia-manusia sempurna lengkap dengan kekayaan yang melimpah tapi hatinya hanya secuil, hingga lupa akan orang tuanya, hingga tega membuang dan menelantarkan anak-anaknya yang katanya demi sebuah harga diri atau nama baik.

Semoga kita bisa berkaca bahwa hidup tak selalu mulus seperti jalan tol, bahwa saat kita mengalami derita, lihatlah masih banyak yang lebih menderita, dan mereka masih sanggup tegak berjuang untuk melanjutkan hidup dan berbuat baik walaupun itu dengan segala keterbatasan. Menyingkapi hidup dengan penuh positif dan penuh harap bahwa di kemudian hari akan menjadi lebih baik.

Semoga bermaanfaat ...

Barrakallahufikum...





16 komentar:

  1. sudah menjadi kodrat manusia punya kelemahan dan kelebihan. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri menyikapinya, agar kelemahan dan keterbatasan itu bisa menjadi kelebihan buat kita. dimana nggak setiap orang menyadari kelebihannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jg ikutan setuju wes... *_*

      Hapus
    2. trus aku mw ikut sama sp coba ? @_@

      Hapus
    3. Jan jane mau kemana to kok pada ikutan, hayo..? *tengok kanan kiri*

      Hapus
    4. mw maen kerumahnya mbk iro ,,, biar dimasakin yg enak2 .,,,,jahahaha

      Hapus
  2. Subhanallah..naluri menjadi ibu memang begitu kuat ya mak walaupun gadis ini downsindrome..Subhanallah ternyata Allah memang Maha Besar walaupun tanpa ayah anaknya ini tumbuh dengan baik dan bertanggung jawab...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba... betul sekali..

      Hapus
    2. setju sama mbk dwi, blogger yg super kece ...hehehehe

      Hapus
  3. Makasih sharing ceritanya mbaaa, malu deh kalau ga banyak bersyukur

    BalasHapus
  4. wah berat sekali cobaan hidup si perempuan itu :'(
    jadi banyak bersyukur n malu karna kadang ngeluh utk hal2 sepele...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba..kdg ank kt rewel sj kt sdh ngeluh kmn2...

      Hapus