Selasa, 04 November 2014

Pintu Hati Ibu Selalu Terbuka

Ibu adalah sebuah sebutan untuk seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkan seorang anak. Dengan penuh kasih sayang dan cintanya dia rawat anak-anaknya, dengan peluhnya setiap Ibu berusaha memberi yang terbaik kepada anaknya. Walaupun terkadang seorang anak tidak bisa membalas dengan semestinya bahkan ada yang menyia-yiakannya diwaktu tua. 

Ini adalah kisah yang nyata, yang pernah saya saksikan dengan kedua mata saya. Seorang Ibu yang begitu menyayangi anaknya walaupun ketika beliau sudah tua, anaknya menyia-nyiakannya. Akan tetapi pintu hati Ibu selalu terbuka untuk selalu memberi maaf kepada anaknya. Kasih sayangnya selalu tercurah tak terhingga sampai akhir hayatnya.

Tersebutlah seorang Ibu, dia tetangga saya di desa. Sejak anaknya kanak-kanak, suaminya telah meninggal dunia, jadilah Ibu ini membesarkan anak gadisnya yang semata wayang sendirian. Beliau membuka toko kelontong di depan rumah orangtuanya. Setelah anaknya hendak kuliah, dirasa penghasilannya kurang mencukupi, akhirnya dengan tekad yang bulat untuk memenuhi kebutuhan anaknya, berangkatlah beliau ke Jakarta.

Disana beliau berjualan, bersama kakaknya yang sudah terlebih dahulu tinggal disana. Tahun demi tahun berlalu hingga si anak gadispun dipinang oleh kekasihnya. Setelah menikah, si Ibu dengan tabungannya membangunkan rumah untuk anaknya dari tabungannya. Mungkin karena usianya yang sudah mulai tua, si Ibu sudah tidak sanggup lagi bekerja. Berbekal uang yang selama ini ditabungnya, si Ibu ini pulang ke kampung, kemudian dibelikannnya sawah yang luas untuk anaknya. Dengan harapan bisa untuk menambah penghasilan untuk anaknya dan untuk menghidupi dirinya sendiri.

Harapan adalah harapan, kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Si anak yang diidamkan akan menjadi penyangga hidupnya, malah tidak begitu peduli padanya. Walaupun si anak memperbolehkan Ibunya tinggal dirumahnya, tapi perlakuannya sangat tidak menyenangkan. Si Ibu hanya diberi makan ala kadarnya, padahal dia sendiri bersama suami dan anak-anaknya berlauk-pauk yang berlebihan. Padahal si Ibupun sudah sakit-sakitan dan sudah tidak sanggup lagi untuk memasak sendiri, karena untuk jalanpun beliau memakai tongkat, dan berpegangan dari satu tembok ke tembok yang lain.

Tidak itu saja, lemari es yang adapun dikunci oleh anaknya, televisipun di letakkan dikamarnya sendiri. Kami tetangganya tak habis pikir bagaimana seorang anak bisa sampai setega itu kepada Ibunya. Akan tetapi si Ibu begitu sabarnya menghadapinya.

Terkadang bila Ibu saya mengunjungi beliau dengan membawa sedikit kue atau lauk untuknya. Si Ibu ini takut, dan meminta Ibu saya memberinya bila tidak ada anaknya saja, takut anaknya marah. Bila Ibu saya ingin menasehati anak Ibu tersebut, Ibu itu melarang dan berkata "Biarkan saja dek, nanti pasti akan sadar dengan sendirinya, saya tidak apa-apa kok, cucu-cucu saya sayang sama saya". Memang bila anak Ibu tersebut pergi, cucu-cucunya selalu memberi perhatian kepada Neneknya. 

Begitu luasnya hati Ibu ini, akan tetapi mungkin Allah tidak ingin hambanya dalam kedholiman terus-menerus. Hingga suatu hari ketika si anak Ibu ini mengandung anaknya yang ketiga dan hendak melahirkan. Si anak yang sudah bukaan 8 mengalami kesulitan untuk melahirkan, rasa sakit yang luar biasa dirasakannya. Tapi si jabang bayi tidak juga mau keluar, segala usaha sudah diupayakan, karena dia juga seorang yang pelit, maka dia menolak untuk dioperasi.

Hingga ada seorang tetangga yang menyarankan agar dia meminta maaf kepada Ibunya atas semua kesalahannya, mencuci kaki Ibunya dan meminumnya. Karena keadaannya, dia tidak bisa mencuci kaki Ibunya, akhirnya suaminya yang menggantikannya. Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa, setelah dia meminta maaf dan meminum air itu, dengan segera bayinya lahir. Walaupun beberapa hari kemudian si bayi meninggal dan kira-kira 2 bulan kemudian disusul oleh anak si Ibu tersebut. 

Bila kita lihat dengan hati yang bersih, bukanlah air cucian kaki Ibunya yang membuat proses kelahirannya di lancarkan oleh Allah, akan tetapi karena keluasan hati si Ibu yang dengan penuh kasih dan lapang dada memaafkan semua kesalahan anaknya. Bukankah ridho orangtua adalah ridho Allah, maka Allahpun insyaallah meridho'inya. 

Seperti dijelaskan dalam sebuah hadist :
Dari Abdullah bin'Amr beliau berkata, Rosulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda "Ridho Allah pada ridho orang tua, dan murka Allah pada murka orangtua ( HR. Al-Baihaqy )
Ketika si Ibu ini akhirnya juga meninggal dunia, semua hartanya diserahkan kepada menantunya, sebagai bukti atas semua cintanya kepada almarhumah anaknya.

Walaupun terkadang kita juga pernah melihat, atau mendengar, seorang Ibu yang tega menelantarkan anaknya bahkan ada yang menjual atau membunuhnya. Bisa saja semua itu karena kurangnya ilmu dan sempitnya pola pikir si Ibu atau karena keadaan yang memaksanya. 

Seperti seekor burung gagak, bila dia sudah bertelur, dan telurnya menetas, maka keluarlah bayi-bayi gagak yang berbulu putih. Karena sempitnya akal si gagak ( karena hewan tidak dikaruaniai akal ), maka dia meninggalkannya karena dia melihat dirinya berbulu hitam dan bayinya putih, sehingga dia menganggap itu bukan anaknya.

Kemudian Allah menganugerahi si bayi-bayi gagak ini dengan bau amis yang menyenggat yang menyebabkan ulat-ulat kecil mendatanginya, dan menjadi makanan untuknya. Sedang induk burung gagak, yang mempunyai naluri seorang ibu mengawasinya dari jauh, hingga beberapa hari kemudian bulu-bulu putih sang bayi gagak berubah menjadi menjadi hitam dan bau amis ditubuhnyapun menghilang, maka dengan segera induk gagak mendatangi dan menjaganya hingga bayi ini bisa mencari makan sendiri. Masyaallah...

Jadi sudah sepatutnya dan wajib hukumnya berbakti kepada orangtua, apapun mereka dan bagaimanapun mereka. Jangan kita menyakitinya bahkan menelatarkannya. Ingatlah bahwa pintu hati Ibu untuk memaafkan anaknya itu seluas samudera, kasihnya adalah sepanjang masa. Akan tetapi jangan sampai dengan kesalahan-kesalahan yang selalu kita ulang membuat sakit dan murka hatinya, menjadikan kita anak durhaka dan menyebabkan Ibu kita menutup hatinya selama-lamanya. Naudzubillah min dzalik. 

Selagi masih ada waktu, bahagiakanlah kedua orang tua kita, Bapak dan Ibu kita, karena jasa mereka tidak pernah bisa tergantikan. Apalagi seorang Ibu, bagaimana kita bisa mengembalikan air susu yang sudah mengalir ke tubuh kita, bagaimana kita bisa mengganti hari-hari penuh kepayahan sewaktu menggandung kita ataupun mengganti rasa sakit yang luar biasa saat beliau melahirkan kita, dan disela-sela rasa sakit itu, beliau setiap siang dan malam menjaga kita dengan penuh kasih dan sayang.

Rasanya tak akan cukup kata dan ucapan untuk mengambarkannya, juga tak akan cukup bumi dan seisinya untuk membalas kebaikan dan kasih sayangnya. Hanya doa, hormat  dan ucapan terimakasih kepada Ibu atas semuanya, terimakasih, terimakasih. Allahummaghfirli wali walidayya warkhamhuma kamaa rabbayani saghira.



52 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. MEngharukan sekali artikel ini. Dengan tulisan seperti ini semoga kita semua bertambah wawasannya dan pemahamannya akan arti seorang IBU dalam keseharian anak anaknya. Semoga kita semua diampuni oleh ALLAH SWT, dan kita semua akan selalu sayang kepada IBU. We love you MOM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin allahumma amiin... Terimakasih pak Asep...

      Hapus
  3. Terharu membaca tulisannya mak, saya banyak dosa sama mama dirumah :'(
    semoga sukses ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak Aida...sy jg banyak dosa...

      Hapus
  4. Balasan
    1. Maaf ya mak kalau bikin sedih...tp banyak pelajaran didalamnya...

      Hapus
  5. hickz,jadi kangen ibukku mbk....
    maaf baru bisa bewe^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gpp mbak... hayuk segera ditelepon Ibunya mbak...

      Hapus
  6. cerita di sinetron ternyata memang ada di dunia nyata yah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak banyak terjadi di dunia nyata...

      Hapus
    2. tp namanya seorang ibu, mau bagaimana pun anaknya, pasti ga mengurangi sayangnya...

      Hapus
  7. sedih membayangkannya, tetapi benar adanya ya mak bahwa anak adalah cobaan. Semoga kelak kita mampu menjadi ibu terbaik buat anak-anak kita, dan memiliki anak-anak yg soleh da soleha aamiin ya Allah :)

    BalasHapus
  8. Ah ibuuu jadi kangen ibuuuk :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk segera ditemui Ibunya mbak...

      Hapus
  9. Hiiikksss mak aku jadi sedih,,, cuma doa yang bisa saya kirimkan untuk Ibu,,, Paling sensitif deh saya kalau sudah berhubungan sama orangtua,,, walaupun apayang saya lakukan selama ini biar secuill belum bisa membalas kebaikan dan jasa2 kedua orang tua saya...

    Sukses ya mak GA nya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doa yg diterima adalah doa anak yg sholeh dan sholehah mak Tinaa..
      Insyaallah doa mak Tina utk Ibu diterima...

      Hapus
  10. tak habis pikir aku,,kok masih ada anak sperti itu ya,,nggak sadar apa dia ada di dunia itu gara2 siapa,,duh2,,,Ibu,,,kau memang kuat,,tegar,,,peluk cium buat ibu #brebesmili

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu ada mbak kejadian seperti ini... tp begitulah anak adalah ujian, begitu pula sebaliknya orang tua yg sudah menginjak tua jg merupakan ujian bagi anak-anaknya...

      Hapus
  11. SubhanAllah.... sungguh kasih ibu seluas samudera. Inspiring story mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak... hati Ibu tiada bandingannya...

      Hapus
  12. moga-moga menang lombanya ya makkkk, tulisannya sangat menyentuh hati. jadi kangen ibu nun jauh di sana jadinya, hiks hiks.... *pencet nomor telpon*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...terimakasih mbak...
      Iya mak cepetan di telepon...

      Hapus
  13. Dan anak gk bisa membalas budi kepada Ibu, tapi bagaimanapun Ibu tetap ikhlas dan memberi yg terbaik utk anaknya..

    BalasHapus
  14. Hiks...naudzubillah..semoga kita termasuk anak yang berbakti pada ibu...

    BalasHapus
  15. Ibu memang segalanya ya mba,,tiada duanya,,*mewek*

    BalasHapus
  16. Ya Tuhan...kayak di sinetron2 ya, Mbak. Tapi ini nyata. Semoga si ibu bisa sabar, tegar, dan bisa memafkan anak2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..alhamdulillah si Ibu sabar & bisa memaafkan anaknya...

      Hapus
  17. astaghfirullah...anak macam apa itu? >.< pdhl anak perempuan, kok gitu yaaa? emang sering, mbak...katanya kalo kurang ajar sama ibu, anaknya gak lahir2. di tempat saya juga banyak yg gitu, akhirnya minum cucian kaki ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... begitulah anak adalah cobaan / ujian, begitupun sebaliknya, ortu yg sdh rentapun menjadi ujian bagi anaknya... semoga kit dijauhkan dari sifat2 durhaka kpd orang tua mbak....aamiin...

      Hapus
  18. harapan adalah harapan kadang hasilnya memang tidak sesuai harapan ..

    BalasHapus
  19. Doa dan berbuat baik pada orangtua, insyaAllah ini bekal yang cukup bagi kita ya mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mak Nurul... itu yang terbaik...

      Hapus
  20. siksaan yang dibalaskan didunia... Adalah siksa durhaka ke ortu... Naudzubillah...., jangan sampai ortu twrsakiti oleh kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... naudzubillah mindzalik... semoga kita bisa dan selalu patuh kpd orang tua... aamiin

      Hapus
  21. Tentang Ibu, hati memangselalu basah mendengar kisah2nya. Semoga kelak jadi ibu dengan hati seluas samudra juga. Ceritanya keren :)

    mampir juga ya :)
    http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/2014/11/mama-rahasia-di-bali-kediaman.html

    BalasHapus
  22. Balasan
    1. Semua tentang Ibu selalu membuat kita terharu ya mbak...

      Hapus
  23. sungguh banyak pelajaran berharga yang kita dapatkan ya mak...sesungguhnya Allah SWT selalu memberi skenario terbaik untuk kita semua..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mak Indah, sayangnya manusia kebanyakan krg bersyukur, kurang sabar dan kurang bisa memahami segala sesuatu yg telah ditetapkan untuknya..

      Hapus