Minggu, 30 November 2014

Anak Obat


Karena ada masalah dengan indung telur sehingga haid saya tidak teratur, saya harus mengikuti program penyuburan kandungan agar bisa hamil. Selama beberapa bulan saya harus menjalani saran dari dokter, dari minum obat, saat dilarang/ diharuskan berhubungan suami istri dan sebagainya.

Ketika haid saya telat, sengaja saya undur jadwal kunjungan ke Dokternya pada bulan berikutnya. Hingga pada saat periksa, dan dokter meletakkan doppler ( alat mendengar detak jantung janin ), terdengarlah suara seperti air terjun, Dokter berkata, "Selamat bu..ibu hamil, usia janin sudah 10 minggu...". Masyaallah sudah 10 minggu (2,5 bulan) dan saya tidak mengetahuinya,  uhhh bodohnya saya.

Trimester awal terlewati tanpa ada kendala karena kalau kata orang saya "ngebo" alias bisa makan apa saja dan tanpa pusing mual, hanya setiap jam 13.00-14.00 WIB setelah makan siang pasti muntah.

Trimester ke dua, kondisi tubuh saya melemah, mungkin karena kesibukan saya. Pagi kerja, sore kuliah dan masih melakukan kegiatan layaknya ibu rumah tangga. Saat usia kandungan 5 bulan, tubuh saya panas tinggi dan lemas, kemudian pingsan.

Setelah diperiksa, saya dinyatakan positif DBD dan typus, dan harus opname di RS selama seminggu. Karena hamil dokter tidak berani memberi obat dengan dosis semestinya, hanya separonya saja. Tentu ini memperlambat penyembuhannya, untuk itu saya tidak boleh bekerja dan harus bedrest selama hampir 2 bulan.

Trimester ke 3, tepatnya di usia kandungan memasuki usia 7 bulan lebih, tubuh saya semakin lemah dan meriang. Untuk itu Dokter melakukan serangkaian test, yang biayanya lumayan mahal. Hingga menguras gaji saya sebulan itupun masih ditambahi suami. Hasil test menunjukan saya positif Hepatitis B akut.

Bersyukur kata Dokter janin saya sehat, hanya saya harus benar-benar istirahat agar tidak berpengaruh kepada janin. Saya tidak diberi obat, hanya vitamin dan petunjuk makanan-makanan apa saja yang boleh dan tidak saya makan. Untuk pengobatan menunggu pasca melahirkan.

Saya minta cuti dengan paksa ke Perusahaan, bersyukur walaupun sedikit manyun, bos saya mengijinkan,  sayapun pulang ke desa dan menyerahkan perawatan saya kepada ibunda tercinta.

Saat yang ditunggu-tunggupun tiba, malam itu tepatnya jam 01.00 wib dini hari, tanggal 18 November 1998, sesuai perkiraan Dokter. Saya merasa ingin pipis, setelah di kamar mandi ternyata ketuban saya sudah pecah. Kemudian kami menuju RS terdekat, dan Dokter mengatakan kemungkinan saya melahirkan jam 10.00 an, ternyata meleset, jam 08.15 WIB saya merasa ada sesuatu yang keluar.

Saya berkata kepada Bibi saya, bahwa bayinya mau keluar, dan menyuruhnya untuk melihat, sontak Bibi berteriak kepada perawat "Suster rambutnya sudah keluar, ini mau melahirkan". Segera para perawat berdatangan dan bismillah dengan cepat bayi cantik saya keluar dengan selamat, lahir dengan panjang 49 cm dan berat 2,4kg, alhamdulillah.

Saat Suster menjahit selaput lahir, rasanya sakit sekali karena pada saat itu pemerintah melarang melakukan pembiusan pada ibu yang melahirkan normal. Bayangkan harus dijahit 10 jahitan dan  tanpa "pembiusan!". 

Meskipun anak saya tidak bisa mendapatkan ASI dari saya karena dokter melarang disebabkan oleh penyakit saya, tapi saya bersyukur sekali karena walaupun ibunya ini selalu mengkonsumsi obat dari anak saya belum jadi, sampai menjadi janin, sehingga orang-orang menyebutnya anak obat itu, tumbuh menjadi gadis cantik yang sehat dan cerdas.





16 komentar:

  1. kebayang ya mba, pasti penuh perjuangan banget hamilnya :) pantesan ya di ganjar surga sama Allah utk Ibu hamil dan melahirkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mbak... makanya Rosulullah menyuruh kita berbakti kpd Ibu, ibu dan ibu sampai 3x... semoga kita bisa membahagiakan ibu yang mengandung & melahirkan kita ya mbak

      Hapus
  2. :) seneng bacanya... Alhamdulillah berjalan lancar yaa persalinannya :)
    saat hamil saya, Mama juga terus minum obat. perdarahan terus sih >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi anak obat juga dong mbak... hehe

      Hapus
  3. aduh maaaak, dijahit tanpa dibius, saya jadi ngilu. Alhamdulillah anaknya lahi dengan selamat dan sehat ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah anaknya sehat... perjuangan yg berat & menyakitkan terbayar lunas mak...

      Hapus
  4. Subhanallah... benar-benar Subhanallah. Selamat dan Sehat selalu ya mak.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin allahumma aamiin, terimakasih mak atas doanya...

      Hapus
  5. perjuangan seorang ibu benar-benar menakjubkan ya Mba, Subhanalloh...anak menjadi obat ibunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... makanya Allah memberikan pahala yg banyak utk seorang Ibu dan seorang anak yg sholeh/sholehah...

      Hapus
  6. bukan anak ASI ya mak..aku juga bukan anak ASI mak,,semoga anak mak Iro selalu sehat ya mak,,aku bukan anak ASI tapi Alhamdulillah Allah memberikan kesehatan bagiku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... sama kyk mbak Dwi... semoga selalu sehat dan pinter kyk mbak Dwi juga...

      Hapus
  7. Semoga selalu diberi kesehatan untuk seluruh anggota kelluarga, mak Iro. :)

    BalasHapus
  8. alhamdulillah...bener2 perjuangan ya mak

    BalasHapus