Jumat, 30 Mei 2014

Orang Tua, Antara Dosa dan Pahala

Baru saja dari rumah seorang teman yang curhat tentang orang tuanya yang sudah tua, yang mulai pikun dan sering uring-uringan. Jadi mengingatkan saya tentang Ibu mertua yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal baiknya dan memberi tempat yang terbaik untuknya.

Bila manusia beranjak tua sifatnya akan banyak berubah, yang dulunya sabar menjadi uring-uringan, yang semula selalu mandiri jadi sangat manja, yang dulunya selalu mengingat setiap peristiwa mendadak menjadi pikun dan lain sebagainya.
"Tua adalah merupakan ujian untuk setiap manusia, tua adalah saat kenikmatan-kenikmatan yang semula didapat menjadi dikurangi, tua adalah ketika usia menjadikannya kembali seperti masa kanak-kanak ,tua adalah ketika ingatannya hanya dipenuhi ketika masa-masa indahnya dimasa lalu, tua adalah ketika semua yang diucapkannya ingin didengarkan dan tua adalah ketika manusia membutuhkan perhatian yang lebih dari setiap anak-anaknya."
Dulu Ibu mertua saya selalu bercerita tentang masa lalunya, waktu masih jaman perang, waktu berpacaran dengan Bapak mertua, waktu masih jadi gadis belia. Ibu begitu bersemangat bila saya ataupun siapa saja mendengarkan cerita beliau dengan penuh perhatian, lain halnya bila sebaliknya, Ibu akan dengan segera pergi ke kamar dan menutup pintunya. Atau diam membisu dengan wajah sedih.

Sebenarnya bosan juga, untuk mengantisipasinya aku selalu mengangguk dan tersenyum saat Ibu bercerita, walaupun perhatianku bukan kepada Ibu, serta sesekali bertanya, wah...berarti gini dan gitu bla bla bla ya Bu.... Ini setidaknya membuat beliau merasa diperhatikan dan bahagia. Padahal saya sudah hafal cerita beliau jadi saya bertanya pertanyaan yang kemarin-kemarin juga. Jujur saya merasa bersalah...maafkan menantumu ya Bu....

Kembali ke cerita saya semula, Ibu teman saya tadi siang datang ke rumah teman saya dengan marah-marah ( rumah beliau satu komplek, tetapi si Ibu tinggal bersama Adik temanku), beliau berguling-guling dilantai ruang tamu, berteriak-teriak kalau beliau akan mati. Teman saya panik, tapi masih berusaha sabar, dan menyuruh anaknya memanggil bibinya ( adik teman saya ).

Kemudian mereka berdua dengan susah payah dan berurai air mata menenangkan Ibunya, hingga benar-benar tenang. Ketika dua kakak beradik ini bau membahu memberikan perhatian kepada Ibunya, ada yang memijatnya dan yang satu membuatkan bubur untuknya, dengan seketika si Ibu kembali ceria seperti semula. 

Padahal hati siapa yang tidak tercabik-cabik melihat perempuan tua berteriak-teriak " aku mau mati , aku mau mati...", sambil berguling-guling dilantai dengan menangis seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.

Orang tua adalah sebuah ladang pahala bagi siapa-siapa yang dengan tulus iklas merawat dan menjaganya. Tapi juga merupakan ladang dosa bagi siapa-siapa yang menelantarkannya. 

Allah Ta'ala berfirman ( yang artinya ) : " Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai  berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS. Al-isra : 23)
( ucapan "Ah" dalam hal ini seperti membangkang atau mengeluh )

Allah Ta'ala berfirman ( yang artinya ) : "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku sewaktu aku masih kecil" ( QS. Al-Isra : 24 )

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Dia celaka ! Dia Celaka! Dia celaka!" lalu  beliau ditanya : "Siapakah yang celaka, ya Rasullullah ?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wassalam : "Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya ( dalam usia lanjut ) atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga ( dengan tidak berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya )" (HR. Shahih Muslim ) 

Kemudian bagaimana kita menghadapi Orang tua yang sudah beranjak renta ?, Intinya adalah sabar dan iklas, berikut ada sedikit tips dari saya :
  • Jika mereka sering lupa, maklumilah karena ingatan mereka sudah berkurang
  • Jika mereka sering bercerita tentang masa lalunya dengarkanlah, jangan dicela dan jangan diabaikan, ini akan sangat menyinggung perasaannya Bila tidak ingin mendengarkannya, berpura-puralah mendengarkannya dengan selalu tersenyum dan mengangguk-angguk tanda mengerti....
  • Jika mereka menyukai sesuatu, biasanya mereka tidak memintanya secara langsung, tapi mengatakan bahwa hal itu bagus, enak atau hal yang baik lainnya. Bila anda punya rejeki, belikanlah segera, dan lihat mereka akan sangat bahagia seperti anak-anak yang baru mendapat mainan. Dan mungkin akan memuji-muji anda, mendoakan, mencium dan memeluk anda.
  • Masaklah makanan yang mereka suka atau tanya ingin dimasakkan apa, memang agak repot, tapi setidaknya akan dimakan oleh mereka dengan hati yang bahagia.
  • Jika mereka ingin melakukan sesuatu asalkan tidak membahayakan mereka, biarkanlah ( Ibu suka sekali merombak baju-baju beliau walaupun itu baju baru, jangan ditanya jadi seperti apa, tapi bila itu membuat beliau bahagia, saya biarkan saja )
  • Jika mereka ke toilet dan ketika toilet masih kotor, diamlah. Segera setelah beliau keluar, segera anda masuk toilet, tutup pintunya dan bersihkan. Biasanya Ibu bertanya kenapa kok ke toilet apa kurang bersih?, saya jawab tidak kok bu, saya kebelet....hehe..
  • Berbohong demi kebaikan,  seperti contoh diatas saya kira tidak mengapa agar tidak menyinggung perasaannya. 
  • Berilah perhatian lebih, karena mereka rata-rata selalu ingin diperhatikan dan ditemani.

Semua itu memang tidak mudah, saya juga manusia biasa yang bisa merasakan capek dan jengkel. Saya juga pernah menangis dikamar, kecapaikan dan putus asa dengan keinginan-keinginan beliau, atau mengeluh kepada suami. Tapi demi melihat ketika Ibu tidur, hati ini menjadi luluh dengan sendirinya. Saya membayangkan bila saya tua nanti akankah akan seperti ini, akankah anak saya akan perhatian kepada saya. 

Akhirnya semua saya lakukan dengan tetap berusaha sabar walaupun sangat sulit lit....saya hanya ingin apa yang saya lakukan dijadikan panutan untuk anak saya. Menjadikan ini semua sebagai ladang Pahala dan bukannya Dosa.... berharap semua yang saya lakukan mendapat ridho' dari Allah Ta'alla. Walaupun ketika saudara-saudara mengatakan saya menantu kesayangan beliau, tetapi sampai saat ini saya masih merasa sangat bersalah kepada beliau karena tidak bisa merawat beliau lebih baik lagi.


 Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

 "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil "



Semoga bermanfaat...

Barrakallahufikum...


14 komentar:

  1. Sungguh Emak Irowati, membaca tulisan ini menetes air mataku. Teringat alm. nenek yang dulu pernah jatuh sampai berdarah banyak dan mengakibatkan badan beliau lumpuh separuh dan (maaf:pikun) selama 7 bulan dan kini telah berpulang ke rahmatulloh, dengan senyuman di waktu menjelang sakarotul maut. semoga khusnul khotimah. Semua, seluruh keluarga harus sabar merawat dan menunggui bergantian.

    Saat itu, aku masih berada di Taiwan merawat Nenek yang juga pikun tapi obat dan perawatan medis di Taiwan yang bagus serta perhatian keluarga akan kesehatan Nenek sangat baik sehingga nenek kini telah 13 tahun pikun.
    Dan benar sekali, ketulusan, kelembutan merawat orangtua memang harus ekstra dan melebihi merawat bayi.

    Jika harus dibandingkan, orangtua menyayangi seluruh buah hatinya, tanpa pamrih dan sangat peduli seumur hidupnya meskipun kita sudah bira mandiri, sudah menikah dan berputra dan bercu

    BalasHapus
  2. cucu.
    Sementara, kita sbg anak. Alangkah piciknya jika di akhir hidupnya tega membiarkannya tak bahagia. Terlebih jika sampai hati menelantarkannya dan merampas harta warisannya.
    Na 'udzubillah.
    Tapi nyatanya, realita ini banyak terjadi di masyarakat.

    Semoga kita termasuk orang yang sabar dan beruntung memperoleh ridho orangtua dan Alloh SWT.
    Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin Allahumma amiiin....benar sekali Mak Okty....dl sy sering memarahi suami bl krg sabar dlm merawat Ibu, sy katakan " Dulu Ibu yg membersihkan ketika mas ke kamar mandi, merawat mas dr bayi hingga bsr dg kasih sayang...jd skrg wktnya berbakti.....", semoga kita semua bs merawat orang tua kita dg penuh kesabaran dan keiklasan ya Makkk...terimakasih sdh berkunjung...

      Hapus
  3. iya... ibunya sodaraku juga tuh.. mertua sih.. sudah mulai pikun di usia 73 tahun.. jadi setiap hari hobi banget masak air... tapi dia takut jika melihat foto suaminya atau bahkan mendengar nama suaminya disebut.. dia takut suaminya datang menjemput dia lalu mengajak dia pergi.. suaminya sudah meninggal dunia 5 tahun yang lalu... tapi yang parah ya itu deh.. hobi masak air karena bikin gas jadi cepet habis dan gak ngerti juga air panasnya buat apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang orang tua seperti kembali jd anak kecil ya mak....jd hrs ekstra sabar sbg anak / menantu dalam merawatnya....ttga sy lbh parah mak Ade, Ibunya hobby bgt makan, sehari bs sp 8x...prnh ttga sy lg mkn, tb2 si Ibu bgn tidur melihat dia mkn...lgsg rambut anaknya dijambak dan kepalanya dibentur2kn ke meja...ktnya "kamu mkn sdri ya, aku gak kamu ksh mkn"....bl ada org lwt selalu teriak2 "tolong2...aku dipenjara sm anakku"...astaqfirllah...untungnya anak2nya sgt sabar merwat ibunya...

      Hapus
  4. betul mak, orangtua adalah ladang amal kita. Saya pun punya ibu mertua yang kalau cerita pasti diulang2. Sebenranya bosan juga sih mendengarnya, tapi tetap saya harus mendengarkan dengan baik sambil menimpali sedikit2. Namanya orangtua, pasti banyak lupanya. Saya hanya berpikir, bagaimana jika nanti saya tua? mungkin juga akan seperti ibu mertua saya, yang kalo cerita diulang2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Santi....kalau bkn anak2 beliau siapa lg yg wajib menjaganya....semoga kita bs dan dimudahkan menjadi anak yg bs berbakti ya mak.....

      Hapus
  5. mak,,,nangis deh aku baca postingannya,,, :'( makasih mak,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak....saling mengingatkan...semoga bermanfaat....

      Hapus
  6. Belum pernah sih mak, secara langsung bertemu dengan nenek (orang tua yang sudah pikun) karena Alhamdulillah neneknya suami sudah 80+ masih sehat, tapi mungkin suatu saat juga akan seperti itu kali ya,,, tapi emang sering sih dengar cerita kalau nanti kita sudah tua, kelakuan atau tingkah kita bisa kaya anak kecil lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak...memang semua itu kehendak dari Allah juga...makanya kan juga ada doanya agar dihindarkan dari kepikunan....semoga kt semua diberi umur yg barakoh ya mak...jd tdk merepotkan anak cucu kita kelak bl kt diberi usia yg lebih...

      Hapus
  7. Saat ini saya juga sedang merawat mertua yg pikun. Kesal, benci, dll campur aduk. Tapi di lain pihak menyadari ini sebagai ujian dari Tuhan. Hanya berusaha ikhlas dan pasrah kepada Yang di Atas.

    BalasHapus